Senin, 28 Oktober 2013

[CERPEN]: Sahabat Jadi Cinta

Cerpen By: Robby Sahrullah

           

      Kisah ini dimulai ketika Papa saya berkelana mencari cinta yang tulus dan ikhlas pada setiap wanita. Ibarat sebuah dongeng, Papa saya adalah seorang Pangeran yang mencari  seorang putri pujaan hatinya dengan berbekal sepatu kaca yang indah dan menawan agar dapat dipakai oleh pujaan hatinya. Tentu pencarian tersebut tidaklah mudah seperti menjentikkan jemari tangan. Tetapi, perjuangan itu membutuhkan pengorbanan cinta dan air mata. Walaupun demikian, Papa saya tak gentar dan pantang menyerah dalam menghadapi rintangan demi rintangan yang menerpa. Dan jika diibaratkan didalam kehidupan nyata, Papa saya bagaikan burung yang terbang dengan penuh rasa bingung mencari sang pujaan hati. Karena jika Papa saya terbang mencari sangkar untuk dihinggapi, maka sangkar tersebut tak akan bertahan lama dan akan rusak seiring dengan berjalannya waktu. Sama halnya dengan Papa saya yang menemukan banyak sekali cinta, tetapi bukan cinta sejati.


            Mungkin, Allah masih ingin Papa saya menjadi pengelana cinta. Jadi, hal itulah yang membuat Papa saya semakin bersemangat menemukan cinta sejatinya. Karena satu hal yang Papa saya yakini yaitu : semakin banyak kegagalan yang terjadi, maka akan membuat kita semakin tegar dan dekat dengan keberhasilan. Tentunya Papa saya mendapat kegagalantidak hanya sekali, dua kali, maupun tiga kali, melainkan berkali-kali. Jika tidak ada dorongan cinta dari dalam diri Papa saya, tentunya Papa saya sudah putus asa, tetapi karena Papa saya mempunyai cinta yang tulus untuk mencari sosok wanita yang dapat menjadi Ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak.

            Papa saya mulai masuk kedalam dunia percintaan sejak berumur 21 tahun. Usia yang cukup dewasa dalam menentukan pasangan hidupnya. Dan kisah ini berawal ketika Papa saya berteman dengan Mama saya. Mereka adalah sahabat sejati yang tidak bisa dipisahkan, saling menghibur, curhat masala- masalah yang dihadapi baik masalah pendidikan, keluarga, maupun masalah hati, yang kita kenal dengan cinta. Diantara Papa dan Mama saya, tidak ada lagi suatu rahasia. Karena, setiap ada masalah mereka selalu terbuka untuk menyelesaikan masalah yang menimpa mereka.

            Ternyata, selama itu Mama saya diam-diam mengagumi dan punya perasaan cinta terhadap Papa saya. Tetapi, Mama saya malu untuk mengungkapkan perasaannya lebih dulu. Jadi, Mama saya memilih untuk memendam perasaannya itu dan berharap suatu saat nanti Papa saya tahu bahwa Mama saya sangat cinta kepada Papa saya. Dan seiring dengan bertambanhya usia. Mama saya selalu berdo’a kepada Allah agar Papa saya tahu bahwa begitu besarnya cinta Mama saya.

            Itu semua membutuhkan proses dan waktu yang lama. Walaupun demikian, Mama saya tetap sabar dan yakin bahwa suatu saat nanti, Allah akan memberikan yang terbaik bagi Mama saya nanti. Dan selama penantian itu, ibu saya telah menjadi teman yang terbaik bagi ayah saya.  Karena setiap ayah saya suka pada seorang wanita,pasti papa saya memeinta bantuan kepada mama saya untuk memberikan  surat cinta kepada wanita yang papa saya suka tersebut. Dan dengan hati yang tulus dan ikhlas,mama saya memberikan surat cintanya papa saya kepada kepada kepada wanita yang papa saya sukai itu.

                Dengan mudahnya wanita yang papa saya sukai itu menjadi pacarnya. Dan itu semua berkat bantuan dari mama saya tercinta. Wanita ang menjadi pacar papasaya itu, merupakan pacar pertama dari papa saya. Papa saya dan pacar pertamanya itu saling mencintai satu sama lain. Jika di ibaratkan, pacar papa saya itu sebagai bunga yang mekar di pagi hari. Dan papa saya sebagai lebah jantan yang siap menghisap madu cinta dari bunga tersebut. Tapi hubungan mereka itu tidak di restui oleh orang tua dari pacar papa saya itu. Mereka tidak mengizinkan papa saya dan pacar pertamanya itu unt uk bertemu .
          Semakin lama saya smsan sama dia saya semakin merasa  tenang  dan bahagia. Ketika kami bersedih gombalan selalu menjadi alternative terbaik untuk mengembalikan kegembiraan kami. Jadi itulah alasan kami  untuk saling menggombali satu sama lain. Setiap kami bertemu kami selalu meluncurkan gombalan maut kami, apa lagi kalau saya gak mau kalah sama dia. “ Adik punya uang dua ribu tidak?” Tanya saya sambil meluncurkan rayuan gombal saya. “ ada sih kakak memang untuk apa” Tanya dia pura-pura penasaran. “ untuk memarkir hati saya ke hati adik.” Jawab dengan gombalnya.  “ hahaha saya pikir untuk beli permen” katanya dengan tawa renyah. “ Tapi bolehkan saya memarkir hati saya ke hati adik” Tanya saya dengan penuh perasaan. “ boleh bangat kakak karena Cuma kakak yang boleh memarkir hati kakak ke hati saya.” Jawab dia menggombali balik. “ yang benar nih Cuma saya yang boleh memarkir hati saya ke hatinya adik.” Tanya saya pura-pura penasaran. “ iya benar karena kunci hayi saya adalah hatinya kakak.” Jawab dia menggombali saya lagi. Saya tentunya tidak mau kalah sama  dia, kemudian saya menggombali dia lagi. “ Bapak adik tinggal di dermaga ya?” Tanya saya meluncurkan gombalan lagi. “ kok kakak bisa tahu sih” Tanya dia penuh penassaran. “ karena adik telah berlayar di hatinya kakak.” Gumam saya dengan penuh kegombalan. “ iya-iya kalau kakak berlayar di hati saya, tapi kalau kakak terbang di hati saya.” Katanya menggombali balik. “ hehe kakak piker Cuma kakak saja yang bisa gombalin adik tapi adik juga bisa gombalin kakak.” Gumam saya dengn senyuman manis. “ iya dong memmmang Cuma kakak saja yang bisa gombal sama saya saya juga bisa kok.” Atanya dengan wajah malu.
             Walau pun kami sering menggombali satu sama lain tapi kami tidak pernah merasa bolulsan dengan gombalan kami tersebut. Karena kami merasa gombalan kami itu manis semanis coklat. Dan didalam kami menjalin hubungan kami tidak pernah berpikir untuk berbut hal-hal negatif. Karena kami tahu bahwa didalam kami menjalin hubungan ada batas-batas yang tidak boleh di lakukan. Karena itu kami selalu menjaga kehormatan satu sama lain agar hubungan kami tidak hancur dengan hal-hal negatif, kami juga selalu memberi semangat di dalam belajar, saling mengingatkan untuk tidak lupa sholat. Dan memeri semangat untuk menjalani hidup. Di situ pula kami menyempatkan diri untuk meluncurkan gombalan maut agar pembicaraan kami tidak terlalu tegang. “ adik tahu tidak bedanya adik sama tawon.” Tanya saya dengan penuh kegombalan. “ gak tahu saya kakak memang apa bedanya” Tanya dia sambil berpikir. “ kalau tawon itu menghasilkan madu dari bunga. Kalau adik menghasilkan cinta dari hati kakak.” Jawab saya dengan gombal. “ kakak bisa saja gombalin saya” katanya dengn muka merah. “ siapa dulu, kakak gitu loh.” Gumam saya dengan penuh percaya diri. Dengan terus menggombali satu sama lain hubungn kami semakin erat dan semakin kokoh seperti mesjid istiqlal. Dengan itu pula kami semakin semangt menjalani hari- hari dengan senyuman manis semanis gula jawa. Meskipun di dalam menjalin suatu hubungan pasti ada hal-hal yang tidak di inginkan. Meskipun  begitu kami tetap tegar menghadapinya dan selalu berdoa kepada Allah.  Agar kami selalu di berikan kekuatan dan selalu  di lindungi oleh Allah. Dan Alhamdulillah Allah selalu menjaga dan melimdungi kami. Karena itu merupakan wujud saying Allah terhadap hamba-hambanya. Jadi saya ingin berpesan untuk selalu berdoa kepada Alrena Allah satu-satunya tempat memohon, dan   Allah satu-satunya yang dapat mengabulkan permohonan kita. Satu lagi dari saya jika ada yang ber sedih, buat lah dia tersenyum. Jika tidak bisa, luncurkan lah ombalan rasa coklat dan dengan selalu berdoa keoada Allah.


SEKIAN...

Sabtu, 26 Oktober 2013

[CERPEN]: Setegar Kupu-Kupu Tak Bersayap

by: Putra Rahmat Ramadan
 
Angin sejuk mengipas-ngipas wajah manusia. Mengepung anggota tubuh rakyat Sumbawa. Tetapi, seorang lelaki berusia 21 tahun menuai kegerahan di kota itu.

     “Aku ingin menikahimu!” Tegas suara Fatir di ujung telepon sembari mengucurkan keringat melalui celah leher bajunya.

     “Iya, aku juga siap!” Suara wanita itu menjawab keseriusan Fatir. Perasaan Fatir serasa terbang bak burung yang baru lepas dari sangkarnya. Keringatnya mengering tiba-tiba di tepi leher bajunya.

Dua manusia tengah menapaki jalan menuju jenjang kesucian. Mereka saling berjauhan. Fatir sedang berlibur di Kota Alas, sementara wanita itu di Kota Malok. Meskipun jarak mereka berjauhan, tapi komunikasi lewat telepon itu semakin memperkecil jarak tersebut. Bahkan semakin dekat, hanya 5 cm.





*****



Enam bulan yang lalu…

Fatir merupakan mahasiswa semester V. Kegiatannya selain kuliah adalah asisten Laboratorium Komputer. Dunia luas ini yang semakin bertebaran ilmu pengetahuan membuat dirinya berkomitmen tetap maju pada segala disiplin ilmu.

     “Meskipun saya sudah di belakang, tapi saya tidak mau terbelakang!” Pekik motto hidupnya.

Sehingga sejak di bangku kuliah, ia selalu mendapatkan penghargaan dari beberapa dosen. Walhasil, salah seorang dosen komputer hendak mengangkatnya sebagai asisten. Setelah terangkat, Fatir menuai kesibukan begitu banyak. Jadwal istirahat semakin kurang, jam belajar menipis. Membuatnya mengeluh di dalam hati.

    “Letih juga pekerjaan demikian!” Suara hati Fatir ketika itu.

Saat berlangsung praktikum komputer, salah seorang mahasiswi yang diajar Fatir mulai melirik. Fatir tak menyangka hal demikian. Wanita itu merupakan adik tingkatnya. Hanya berbeda setahun. Kadang wanita itu menelpon, membicarakan tugas-tugas komputer. Bahkan tanpa disangka Fatir, wanita itu menjadikannya tumpahan hati. Meminta solusi dari persoalan yang dihadapi wanita itu. Hal demikianlah membuat hubungan mereka berdua semakin erat. Bukan lagi sebatas adik kelas. Lebih dari itu!
Hari-hari letih yang dialami Fatir berubah. Keletihan tak lagi berkunjung. Kobaran semangat datang. Hati menggebu-gebu menyapa.

    “Inikah cinta?” Suara hati Fatir berbisik di bawah temaram lampu kamarnya.

Tanpa disangka, Fatir hendak menyatakan cinta kepada wanita itu. Namun, cinta Fatir tak seperti lelaki lain yang hanya mencari kepuasan sementara. Cinta Fatir tak sinonim pacaran.

    “Pacaran itu tidak pernah dilakukan para nabi, sahabat, dan ulama!” Sebutnya jika berdebat.



*****



Kepribadian Fatir adalah menelaah buku-buku Islam, mulai dari perkara dasar Islam hingga perkara luas: buku fiqih, aqidah, tauhid, hukum-hukum, dan mengenai pemerintahan Islam.

Komitmennya yaitu meminang wanita itu. Memang sejak semester III, ia berangan-angan menikah.

     “Menikah merupakan sunnah rasul itu. Hubungan lelaki dan wanita dalam ikatan nikah adalah halal, sementara selain itu haram. Menikah harus dipercepat. Jika tidak, maka fitnah akan datang.” Kutipan buku yang dibaca Fatir.

Fatir berusaha mengenalnya lebih dekat. Wanita itu bernama Hj.Assyifa Zahra. Label “Hj” merupakan singkatan dari Hadjah, artinya seorang wanita yang telah menunaikan rukun Islam kelima: naik haji bagi yang mampu. Fatir terkaget-kaget ketika mengetahui wanita itu sudah berhaji. Umur 20 tahun, menurutnya usia sangat muda dan tidak semua orang pergi ke Baitullah. Hanya strata konglomerat bisa menuju ke sana.

    “Pasti ia anak orang kaya!” Celoteh Fatir dalam hati.

Kadang pula bersemayam dalam hatinya untuk tidak melamarnya, mengingat mahar wanita seperti ini tinggi. Akan tetapi, kendala demikian bukan penghalang yang membuatnya mengurungkan niat meminangnya. Sebab, sejak dahulu ia menanti mahligai pernikahan ini. Ia menanti saat-saat terindah menyempurnakan setengah dari agama: menikah. Bahkan, dalam setiap do’a di antara adzan dan iqamah, kerap ia selipkan permintaan ini,

     “Ya Allah, mudahkanlah aku untuk menikah!” Pintanya sambil merundukkan kepala, berharap maharnya murah.

SubhanAllah. Ternyata do’a Fatir dikabulkan.

     “Tenang saja, kakak. Saya akan membantu menambah uang kakak!” Ujar wanita itu ketika Fatir mengeluh tinggihnya putusan maharnya nanti.

Semangat Fatir semakin membara. Wanita itu menepis keluhannya. Fatir makin cinta kepadanya. Pada kesempatan ini, ia mencoba memberanikan diri, maju ke rumah wanita itu. Fatir menelpon wanita itu,

     “Kapan aku ke Malok menemui orang tuamu?” Pintanya berharap datang ke orang tua wanita itu untuk melamar.

     “…..!” Senyap wanita itu. Tak mengira Fatir serius ingin melamarnya. Wanita itu terkaget-kaget.

     “Nanti saja, Kak. Nanti, saya kabari jika orang di rumah sudah siap!” Hati Fatir tak kuasa menahan penantian. Menunggu baginya menyakitkan.



*****



Tiga hari kemudian…

Fatir kembali ke kota asalanya Raba, Kabupaten Bima. Tak terasa waktu yang dinanti-nantikan tiba. Wanita itu menelpon. Detak jantung Fatir semakin deras tak beraturan. Menanti ucapan wanita itu. Apakah ada panggilan ke rumahnya atau tidak. Sungguh, detik-detik menegangkan.

     “Iya, besok kakak bisa ke rumah!”

Hati Fatir meletup-letup. Akhirnya bisa berkunjung menemui orang tuanya. Fatir menyiapkan segala-galanya, penampilan fisik mulai ditata, dan meminta kepada Rabb-nya,

     “Ya Allah, mudahkan!” do’a Fatir.



*****



Esok hari, pukul 06.00, Fatir menuju Malok. Perjalanan sekitar 300 km. Setiap kali ia melempar pandangan ke luar jendela bus.,

     “Aku akan menghadapi dua keadaan genting. Entah diterima atau ditolak!” Terbetik dalam hatinya.

Awan-awan kapas berwarna biru lembut turun. Mengapung rendah hendak menyentuh permukaan laut yang surut jauh, itulah Malok. Tepat pukul 15.00. Fatir tak langsung menuju rumah wanita itu. Tapi ia ke masjid menunaikan shalat dzuhur yang akan di jamak-qashar dengan shalat ashar. Mengingat dirinya adalah mushafir. Seusai shalat, Fatir kembali menengadahkan tangannya ke atas, berdo’a dengan penuh pengharapan kepada Rabbnya,

     “Ya Allah, mudahkanlah segalanya!”

Dan ia menutup do’anya,

     “Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

     “Kring… Kring… Kring!” Suara HP Fatir berbunyi. Ternyata wanita itu menelpon sedang memanggil Fatir segera ke rumahnya.

     “Silahkan ke rumah, Kak!” Ujar wanita itu memanggil lembut Fatir.

Sekali lagi, jantung Fatir terengah-engah bersiap menghadapi peristiwa besar dalam hidupnya. Ini pertama kalinya ia melamar wanita dan tanpa di temani seorang pun.

Jarak masjid ke rumah wanita itu, cukup 70 langkah. Fatir masuk ke rumahnya sembari mengucapkan salam di daun pintu rumahnya. Lalu, ia dipersilahkan masuk oleh keluarga wanita itu. Fatir pun bergegas masuk dan duduk di sofa mewah. Tepat di depan tempat duduk Fatir, ibu wanita itu duduk. Mulailah Fatir menyampaikan niatnya,

     “Ibu, aku memiliki niat baik. Aku hendak melamar anak gadis, Ibu!” Ujar Fatir yang sangat meyakinkan.

Ibu wanita itu terdiam sejenak melihat keberanian Fatir. Ibu itu tak langsung menjawab, ia mendiskusikan dengan beberapa anaknya dulu. Setelah diskusi, ibu itu masuk ke dalam rumah. Saudari-saudari wanita itu mewakili jawaban ibu itu,

     “Dek, kami masih mau Hj. Assyifa Zahra kuliah, bukan menikah!”

Fatir mematung. Jawaban itu cukup ringkas, tapi mampu meretakkan dan meledakkan cita-citanya. Fatir mengetahui bahwa benang merahnya adalah tak jadi menikah dengan wanita idamannya.

     “Lelaki itu kuat! Sekuat kupu-kupu tak bersayap” Kata hatinya paling dalam. Membuatnya tak putus asa. Meskipun pihak keluarga wanita menolak, ia tak ambil hati.

     “Mungkin Allah memberikan jodoh yang lain!” Ujar Fatir sambil merundukkan padangannya ke lantai. Fatir menarik napas panjang-panjang dan bertutur,

     “Saya permisi dulu!” Intonasi suara Fatir melemah dan gagap.

Akhirnya, Fatir kembali ke Raba dengan penuh kepedihan.

Di atas bus yang ia tumpangi itu, angin dingin menyerbu lewat jendela, menampar-nampar wajah Fatir. Ia melempar pandangan ke sana sembari berkata,

     “Alhamdulillah dalam segala keadaan. Ku telah menunaikan kewajibanku sebagai lelaki yang mencintai seseorang. Bukanlah keberhasilan diukur dengan diterimanya lamaran, tapi bagiku keberhasilan itu adalah mampu melamar wanita itu di depan ibunya.”

Di ujung ekor mata Fatir, terlihat kesedihan mendalam. Meluap-luap kekecewaan. Namun, Fatir seorang lelaki kuat, ia tak mau menitikkan air matanya. Ia selalu menepis kekecewaan itu dengan mengigat firman Allah,

     “Bisa jadi di sisimu itu baik, tapi di sisi Allah itu buruk bagimu."

 

SEKIAN…..