Angin sejuk
mengipas-ngipas wajah manusia. Mengepung anggota tubuh rakyat Sumbawa. Tetapi, seorang lelaki berusia 21
tahun menuai kegerahan di kota
itu.
“Aku ingin menikahimu!” Tegas suara Fatir
di ujung telepon sembari mengucurkan keringat melalui celah leher bajunya.
“Iya, aku juga siap!” Suara wanita itu
menjawab keseriusan Fatir. Perasaan Fatir serasa terbang bak burung yang baru
lepas dari sangkarnya. Keringatnya mengering tiba-tiba di tepi leher bajunya.
Dua
manusia tengah menapaki jalan menuju jenjang kesucian. Mereka saling berjauhan.
Fatir sedang berlibur di Kota Alas, sementara wanita itu di Kota Malok.
Meskipun jarak mereka berjauhan, tapi komunikasi lewat telepon itu semakin
memperkecil jarak tersebut. Bahkan semakin dekat, hanya 5 cm.
*****
Enam
bulan yang lalu…
Fatir
merupakan mahasiswa semester V. Kegiatannya selain kuliah adalah asisten
Laboratorium Komputer. Dunia luas ini yang semakin bertebaran ilmu pengetahuan
membuat dirinya berkomitmen tetap maju pada segala disiplin ilmu.
“Meskipun saya sudah di belakang, tapi
saya tidak mau terbelakang!” Pekik motto
hidupnya.
Sehingga
sejak di bangku kuliah, ia selalu mendapatkan penghargaan dari beberapa dosen.
Walhasil, salah seorang dosen komputer hendak mengangkatnya sebagai asisten.
Setelah terangkat, Fatir menuai kesibukan begitu banyak. Jadwal istirahat
semakin kurang, jam belajar menipis. Membuatnya mengeluh di dalam hati.
“Letih juga pekerjaan demikian!” Suara hati
Fatir ketika itu.
Saat
berlangsung praktikum komputer, salah seorang mahasiswi yang diajar Fatir mulai
melirik. Fatir tak menyangka hal demikian. Wanita itu merupakan adik tingkatnya.
Hanya berbeda setahun. Kadang wanita itu menelpon, membicarakan tugas-tugas
komputer. Bahkan tanpa disangka Fatir, wanita itu menjadikannya tumpahan hati. Meminta solusi dari persoalan
yang dihadapi wanita itu. Hal demikianlah membuat hubungan mereka berdua
semakin erat. Bukan lagi sebatas adik kelas. Lebih dari itu!
Hari-hari
letih yang dialami Fatir berubah. Keletihan tak lagi berkunjung. Kobaran
semangat datang. Hati menggebu-gebu menyapa.
“Inikah cinta?” Suara hati Fatir berbisik
di bawah temaram lampu kamarnya.
Tanpa
disangka, Fatir hendak menyatakan cinta kepada wanita itu. Namun, cinta Fatir
tak seperti lelaki lain yang hanya mencari kepuasan sementara. Cinta Fatir tak
sinonim pacaran.
“Pacaran itu tidak pernah dilakukan para
nabi, sahabat, dan ulama!” Sebutnya jika berdebat.
*****
Kepribadian
Fatir adalah menelaah buku-buku Islam, mulai dari perkara dasar Islam hingga
perkara luas: buku fiqih, aqidah, tauhid, hukum-hukum, dan mengenai
pemerintahan Islam.
Komitmennya
yaitu meminang wanita itu. Memang sejak semester III, ia berangan-angan menikah.
“Menikah merupakan sunnah rasul itu.
Hubungan lelaki dan wanita dalam ikatan nikah adalah halal, sementara selain
itu haram. Menikah harus dipercepat. Jika tidak, maka fitnah akan datang.” Kutipan
buku yang dibaca Fatir.
Fatir
berusaha mengenalnya lebih dekat. Wanita itu bernama Hj.Assyifa Zahra. Label
“Hj” merupakan singkatan dari Hadjah, artinya seorang wanita yang telah
menunaikan rukun Islam kelima: naik haji bagi yang mampu. Fatir terkaget-kaget
ketika mengetahui wanita itu sudah berhaji. Umur 20 tahun, menurutnya usia
sangat muda dan tidak semua orang pergi ke Baitullah. Hanya strata konglomerat
bisa menuju ke sana.
“Pasti ia anak orang kaya!” Celoteh Fatir
dalam hati.
Kadang
pula bersemayam dalam hatinya untuk tidak melamarnya, mengingat mahar wanita
seperti ini tinggi. Akan tetapi, kendala demikian bukan penghalang yang
membuatnya mengurungkan niat meminangnya. Sebab, sejak dahulu ia menanti
mahligai pernikahan ini. Ia menanti saat-saat terindah menyempurnakan setengah
dari agama: menikah. Bahkan, dalam setiap do’a di antara adzan dan iqamah,
kerap ia selipkan permintaan ini,
“Ya Allah, mudahkanlah aku untuk menikah!”
Pintanya sambil merundukkan kepala, berharap maharnya murah.
SubhanAllah.
Ternyata do’a Fatir dikabulkan.
“Tenang saja, kakak. Saya akan membantu
menambah uang kakak!” Ujar wanita itu ketika Fatir mengeluh tinggihnya putusan
maharnya nanti.
Semangat Fatir
semakin membara. Wanita itu menepis keluhannya. Fatir makin cinta kepadanya.
Pada kesempatan ini, ia mencoba memberanikan diri, maju ke rumah wanita itu. Fatir
menelpon wanita itu,
“Kapan aku ke Malok menemui orang tuamu?”
Pintanya berharap datang ke orang tua wanita itu untuk melamar.
“…..!” Senyap wanita itu. Tak mengira Fatir
serius ingin melamarnya. Wanita itu terkaget-kaget.
“Nanti saja, Kak. Nanti, saya kabari jika
orang di rumah sudah siap!” Hati Fatir tak kuasa menahan penantian. Menunggu
baginya menyakitkan.
*****
Tiga hari
kemudian…
Fatir
kembali ke kota
asalanya Raba, Kabupaten Bima. Tak terasa waktu yang dinanti-nantikan tiba.
Wanita itu menelpon. Detak jantung Fatir semakin deras tak beraturan. Menanti
ucapan wanita itu. Apakah ada panggilan ke rumahnya atau tidak. Sungguh,
detik-detik menegangkan.
“Iya, besok kakak bisa ke rumah!”
Hati Fatir
meletup-letup. Akhirnya bisa berkunjung menemui orang tuanya. Fatir menyiapkan
segala-galanya, penampilan fisik mulai ditata, dan meminta kepada Rabb-nya,
“Ya Allah, mudahkan!” do’a Fatir.
*****
Esok
hari, pukul 06.00, Fatir menuju Malok. Perjalanan sekitar 300 km. Setiap kali
ia melempar pandangan ke luar jendela bus.,
“Aku akan menghadapi dua keadaan genting.
Entah diterima atau ditolak!” Terbetik dalam hatinya.
Awan-awan
kapas berwarna biru lembut turun. Mengapung rendah hendak menyentuh permukaan
laut yang surut jauh, itulah Malok. Tepat pukul 15.00. Fatir tak langsung
menuju rumah wanita itu. Tapi ia ke masjid menunaikan shalat dzuhur yang akan
di jamak-qashar dengan shalat ashar. Mengingat dirinya adalah mushafir. Seusai
shalat, Fatir kembali menengadahkan tangannya ke atas, berdo’a dengan penuh pengharapan
kepada Rabbnya,
“Ya Allah, mudahkanlah segalanya!”
Dan ia
menutup do’anya,
“Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah
hatiku di atas agama-Mu.”
“Kring… Kring… Kring!” Suara HP Fatir
berbunyi. Ternyata wanita itu menelpon sedang memanggil Fatir segera ke
rumahnya.
“Silahkan ke rumah, Kak!” Ujar wanita itu
memanggil lembut Fatir.
Sekali
lagi, jantung Fatir terengah-engah bersiap menghadapi peristiwa besar dalam
hidupnya. Ini pertama kalinya ia melamar wanita dan tanpa di temani seorang
pun.
Jarak
masjid ke rumah wanita itu, cukup 70 langkah. Fatir masuk ke rumahnya sembari
mengucapkan salam di daun pintu rumahnya. Lalu, ia dipersilahkan masuk oleh
keluarga wanita itu. Fatir pun bergegas masuk dan duduk di sofa mewah. Tepat di
depan tempat duduk Fatir, ibu wanita itu duduk. Mulailah Fatir menyampaikan
niatnya,
“Ibu, aku memiliki niat baik. Aku hendak
melamar anak gadis, Ibu!” Ujar Fatir yang sangat meyakinkan.
Ibu
wanita itu terdiam sejenak melihat keberanian Fatir. Ibu itu tak langsung
menjawab, ia mendiskusikan dengan beberapa anaknya dulu. Setelah diskusi, ibu
itu masuk ke dalam rumah. Saudari-saudari wanita itu mewakili jawaban ibu itu,
“Dek, kami masih mau Hj. Assyifa Zahra
kuliah, bukan menikah!”
Fatir mematung.
Jawaban itu cukup ringkas, tapi mampu meretakkan dan meledakkan cita-citanya. Fatir
mengetahui bahwa benang merahnya adalah tak jadi menikah dengan wanita
idamannya.
“Lelaki itu kuat! Sekuat kupu-kupu tak bersayap” Kata hatinya paling
dalam. Membuatnya tak putus asa. Meskipun pihak keluarga wanita menolak, ia tak
ambil hati.
“Mungkin Allah memberikan jodoh yang
lain!” Ujar Fatir sambil merundukkan padangannya ke lantai. Fatir menarik napas
panjang-panjang dan bertutur,
“Saya permisi dulu!” Intonasi suara Fatir melemah
dan gagap.
Akhirnya,
Fatir kembali ke Raba dengan penuh kepedihan.
Di atas
bus yang ia tumpangi itu, angin dingin menyerbu lewat jendela, menampar-nampar
wajah Fatir. Ia melempar pandangan ke sana
sembari berkata,
“Alhamdulillah dalam segala keadaan. Ku
telah menunaikan kewajibanku sebagai lelaki yang mencintai seseorang. Bukanlah
keberhasilan diukur dengan diterimanya lamaran, tapi bagiku keberhasilan itu
adalah mampu melamar wanita itu di depan ibunya.”
Di ujung
ekor mata Fatir, terlihat kesedihan mendalam. Meluap-luap kekecewaan. Namun, Fatir
seorang lelaki kuat, ia tak mau menitikkan air matanya. Ia selalu menepis
kekecewaan itu dengan mengigat firman Allah,
SEKIAN…..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar