Sabtu, 26 Oktober 2013

[CERPEN]: Setegar Kupu-Kupu Tak Bersayap

by: Putra Rahmat Ramadan
 
Angin sejuk mengipas-ngipas wajah manusia. Mengepung anggota tubuh rakyat Sumbawa. Tetapi, seorang lelaki berusia 21 tahun menuai kegerahan di kota itu.

     “Aku ingin menikahimu!” Tegas suara Fatir di ujung telepon sembari mengucurkan keringat melalui celah leher bajunya.

     “Iya, aku juga siap!” Suara wanita itu menjawab keseriusan Fatir. Perasaan Fatir serasa terbang bak burung yang baru lepas dari sangkarnya. Keringatnya mengering tiba-tiba di tepi leher bajunya.

Dua manusia tengah menapaki jalan menuju jenjang kesucian. Mereka saling berjauhan. Fatir sedang berlibur di Kota Alas, sementara wanita itu di Kota Malok. Meskipun jarak mereka berjauhan, tapi komunikasi lewat telepon itu semakin memperkecil jarak tersebut. Bahkan semakin dekat, hanya 5 cm.





*****



Enam bulan yang lalu…

Fatir merupakan mahasiswa semester V. Kegiatannya selain kuliah adalah asisten Laboratorium Komputer. Dunia luas ini yang semakin bertebaran ilmu pengetahuan membuat dirinya berkomitmen tetap maju pada segala disiplin ilmu.

     “Meskipun saya sudah di belakang, tapi saya tidak mau terbelakang!” Pekik motto hidupnya.

Sehingga sejak di bangku kuliah, ia selalu mendapatkan penghargaan dari beberapa dosen. Walhasil, salah seorang dosen komputer hendak mengangkatnya sebagai asisten. Setelah terangkat, Fatir menuai kesibukan begitu banyak. Jadwal istirahat semakin kurang, jam belajar menipis. Membuatnya mengeluh di dalam hati.

    “Letih juga pekerjaan demikian!” Suara hati Fatir ketika itu.

Saat berlangsung praktikum komputer, salah seorang mahasiswi yang diajar Fatir mulai melirik. Fatir tak menyangka hal demikian. Wanita itu merupakan adik tingkatnya. Hanya berbeda setahun. Kadang wanita itu menelpon, membicarakan tugas-tugas komputer. Bahkan tanpa disangka Fatir, wanita itu menjadikannya tumpahan hati. Meminta solusi dari persoalan yang dihadapi wanita itu. Hal demikianlah membuat hubungan mereka berdua semakin erat. Bukan lagi sebatas adik kelas. Lebih dari itu!
Hari-hari letih yang dialami Fatir berubah. Keletihan tak lagi berkunjung. Kobaran semangat datang. Hati menggebu-gebu menyapa.

    “Inikah cinta?” Suara hati Fatir berbisik di bawah temaram lampu kamarnya.

Tanpa disangka, Fatir hendak menyatakan cinta kepada wanita itu. Namun, cinta Fatir tak seperti lelaki lain yang hanya mencari kepuasan sementara. Cinta Fatir tak sinonim pacaran.

    “Pacaran itu tidak pernah dilakukan para nabi, sahabat, dan ulama!” Sebutnya jika berdebat.



*****



Kepribadian Fatir adalah menelaah buku-buku Islam, mulai dari perkara dasar Islam hingga perkara luas: buku fiqih, aqidah, tauhid, hukum-hukum, dan mengenai pemerintahan Islam.

Komitmennya yaitu meminang wanita itu. Memang sejak semester III, ia berangan-angan menikah.

     “Menikah merupakan sunnah rasul itu. Hubungan lelaki dan wanita dalam ikatan nikah adalah halal, sementara selain itu haram. Menikah harus dipercepat. Jika tidak, maka fitnah akan datang.” Kutipan buku yang dibaca Fatir.

Fatir berusaha mengenalnya lebih dekat. Wanita itu bernama Hj.Assyifa Zahra. Label “Hj” merupakan singkatan dari Hadjah, artinya seorang wanita yang telah menunaikan rukun Islam kelima: naik haji bagi yang mampu. Fatir terkaget-kaget ketika mengetahui wanita itu sudah berhaji. Umur 20 tahun, menurutnya usia sangat muda dan tidak semua orang pergi ke Baitullah. Hanya strata konglomerat bisa menuju ke sana.

    “Pasti ia anak orang kaya!” Celoteh Fatir dalam hati.

Kadang pula bersemayam dalam hatinya untuk tidak melamarnya, mengingat mahar wanita seperti ini tinggi. Akan tetapi, kendala demikian bukan penghalang yang membuatnya mengurungkan niat meminangnya. Sebab, sejak dahulu ia menanti mahligai pernikahan ini. Ia menanti saat-saat terindah menyempurnakan setengah dari agama: menikah. Bahkan, dalam setiap do’a di antara adzan dan iqamah, kerap ia selipkan permintaan ini,

     “Ya Allah, mudahkanlah aku untuk menikah!” Pintanya sambil merundukkan kepala, berharap maharnya murah.

SubhanAllah. Ternyata do’a Fatir dikabulkan.

     “Tenang saja, kakak. Saya akan membantu menambah uang kakak!” Ujar wanita itu ketika Fatir mengeluh tinggihnya putusan maharnya nanti.

Semangat Fatir semakin membara. Wanita itu menepis keluhannya. Fatir makin cinta kepadanya. Pada kesempatan ini, ia mencoba memberanikan diri, maju ke rumah wanita itu. Fatir menelpon wanita itu,

     “Kapan aku ke Malok menemui orang tuamu?” Pintanya berharap datang ke orang tua wanita itu untuk melamar.

     “…..!” Senyap wanita itu. Tak mengira Fatir serius ingin melamarnya. Wanita itu terkaget-kaget.

     “Nanti saja, Kak. Nanti, saya kabari jika orang di rumah sudah siap!” Hati Fatir tak kuasa menahan penantian. Menunggu baginya menyakitkan.



*****



Tiga hari kemudian…

Fatir kembali ke kota asalanya Raba, Kabupaten Bima. Tak terasa waktu yang dinanti-nantikan tiba. Wanita itu menelpon. Detak jantung Fatir semakin deras tak beraturan. Menanti ucapan wanita itu. Apakah ada panggilan ke rumahnya atau tidak. Sungguh, detik-detik menegangkan.

     “Iya, besok kakak bisa ke rumah!”

Hati Fatir meletup-letup. Akhirnya bisa berkunjung menemui orang tuanya. Fatir menyiapkan segala-galanya, penampilan fisik mulai ditata, dan meminta kepada Rabb-nya,

     “Ya Allah, mudahkan!” do’a Fatir.



*****



Esok hari, pukul 06.00, Fatir menuju Malok. Perjalanan sekitar 300 km. Setiap kali ia melempar pandangan ke luar jendela bus.,

     “Aku akan menghadapi dua keadaan genting. Entah diterima atau ditolak!” Terbetik dalam hatinya.

Awan-awan kapas berwarna biru lembut turun. Mengapung rendah hendak menyentuh permukaan laut yang surut jauh, itulah Malok. Tepat pukul 15.00. Fatir tak langsung menuju rumah wanita itu. Tapi ia ke masjid menunaikan shalat dzuhur yang akan di jamak-qashar dengan shalat ashar. Mengingat dirinya adalah mushafir. Seusai shalat, Fatir kembali menengadahkan tangannya ke atas, berdo’a dengan penuh pengharapan kepada Rabbnya,

     “Ya Allah, mudahkanlah segalanya!”

Dan ia menutup do’anya,

     “Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

     “Kring… Kring… Kring!” Suara HP Fatir berbunyi. Ternyata wanita itu menelpon sedang memanggil Fatir segera ke rumahnya.

     “Silahkan ke rumah, Kak!” Ujar wanita itu memanggil lembut Fatir.

Sekali lagi, jantung Fatir terengah-engah bersiap menghadapi peristiwa besar dalam hidupnya. Ini pertama kalinya ia melamar wanita dan tanpa di temani seorang pun.

Jarak masjid ke rumah wanita itu, cukup 70 langkah. Fatir masuk ke rumahnya sembari mengucapkan salam di daun pintu rumahnya. Lalu, ia dipersilahkan masuk oleh keluarga wanita itu. Fatir pun bergegas masuk dan duduk di sofa mewah. Tepat di depan tempat duduk Fatir, ibu wanita itu duduk. Mulailah Fatir menyampaikan niatnya,

     “Ibu, aku memiliki niat baik. Aku hendak melamar anak gadis, Ibu!” Ujar Fatir yang sangat meyakinkan.

Ibu wanita itu terdiam sejenak melihat keberanian Fatir. Ibu itu tak langsung menjawab, ia mendiskusikan dengan beberapa anaknya dulu. Setelah diskusi, ibu itu masuk ke dalam rumah. Saudari-saudari wanita itu mewakili jawaban ibu itu,

     “Dek, kami masih mau Hj. Assyifa Zahra kuliah, bukan menikah!”

Fatir mematung. Jawaban itu cukup ringkas, tapi mampu meretakkan dan meledakkan cita-citanya. Fatir mengetahui bahwa benang merahnya adalah tak jadi menikah dengan wanita idamannya.

     “Lelaki itu kuat! Sekuat kupu-kupu tak bersayap” Kata hatinya paling dalam. Membuatnya tak putus asa. Meskipun pihak keluarga wanita menolak, ia tak ambil hati.

     “Mungkin Allah memberikan jodoh yang lain!” Ujar Fatir sambil merundukkan padangannya ke lantai. Fatir menarik napas panjang-panjang dan bertutur,

     “Saya permisi dulu!” Intonasi suara Fatir melemah dan gagap.

Akhirnya, Fatir kembali ke Raba dengan penuh kepedihan.

Di atas bus yang ia tumpangi itu, angin dingin menyerbu lewat jendela, menampar-nampar wajah Fatir. Ia melempar pandangan ke sana sembari berkata,

     “Alhamdulillah dalam segala keadaan. Ku telah menunaikan kewajibanku sebagai lelaki yang mencintai seseorang. Bukanlah keberhasilan diukur dengan diterimanya lamaran, tapi bagiku keberhasilan itu adalah mampu melamar wanita itu di depan ibunya.”

Di ujung ekor mata Fatir, terlihat kesedihan mendalam. Meluap-luap kekecewaan. Namun, Fatir seorang lelaki kuat, ia tak mau menitikkan air matanya. Ia selalu menepis kekecewaan itu dengan mengigat firman Allah,

     “Bisa jadi di sisimu itu baik, tapi di sisi Allah itu buruk bagimu."

 

SEKIAN…..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar